chichi's Weblog

11 November 2008 (part 2)

December 5, 2008 · 1 Comment

ntah apa yang ada dibenak ku saat itu. semua kosong. aku membayangkan wajah papa. betapa banyak yang belum aku lakukan untuk nya. aku berteriak tak jelas pada om ujang “kenapa om ngomong gt?kenapa om?” nada bicara ku berteriak. waktu itu aku sambil turun dari mobil, aku sudah tiba di dpn kost ku. sepanjang menuju kamar, aku berteriak2 kepada om ujang. aku minta padanya untuk tidak mengucapkan hal seperti itu. mungkin semua tetangga saat itu mendengar teriakan ku dengan heran. aku terus berteriak sambil menangis. lalu aku tutup telpon dengan rasa marah ku. aku kecewa sekali rasa nya pada om ujang. aku berharap dia bohong. hari itu, selasa pagi itu rasa nya aku tak ingin ada di hari itu. aku berteriak “ya Allah, tolong tunjukkan pada ku klo ini ga bener ya Allah”. enday yang di utus untuk menemani ku ke airport hanya berjalan di belakang ku sambil mengatakan “sabar ya mbak, tabah mbak”. aku tak menghiraukan nya. aku mengambil tas travelku, mengisi dengan sebuah celana panjang dan beberapa baju. lalu menyempatkan mengambil al-quran yang ada di meja sebelah tempat tidurku dan langsung berjalan lagi ke arah mobil.pak supir yang sejak tadi diam, ikut menghampiriku dan mengambil tas di tangan ku. enday langsung duduk di kursi tengah  bersamaku. aku masih menangis tersedu-sedu. hp ku terus berdering. klo bukan dari saudara2 ku, tak akan aku angkat telp2 itu. langsung aku berikan kepada enday supaya dia saja yang berbicara. aku tak mau di ganggu. aku menangis menghadap ke jendela mobil. mobil bergerak ke arah bandara. pak firza pun menelpon ku. mungkin dia ingin memberi kabar padaku. begitu aku angkap telp itu aku langsung bilang “pak, saya sudah tau” nadaku melemah. aku hanya bisa menangis. pak firza memintaku menyerahkan telpon ku pada enday. lalu mereka berkoordinasi. entah apa itu aku tak perduli. yg ku ingat hanya imam, ferro dan puspa. aku sms mereka. “Doain gw tabah ya. Bokap gw dah ga ada. gw sedih banget. jangan telp gw dl”

enday mengaji disamping ku. aku bersandar di bahu nya sambil tersedu2. bacaan al-quran itu tersendat2 karena banyak sekali telpon yang harus di angkat. dari pak firza, hingga dari managerku. semua ikut sibuk mengurus tiketku. temen2ku pun mulai tau dan mulai mengirim sms belasungkawa nya. tak ada yang ku balas. aku hanya ingin menangis. hanya telp dari lia, anne, dan alfi serta dari saudara2ku yang aku angkat. pandangan ku menerawang, mengingat papa. sejuta pertanyaan dlam benak ku, kenapa papa meninggal hanya karena jatuh? jatuh seperti apa sih sebenar nya? aku benar2 ga habis pikir.

proses mendapatkan tiket pun tak gampang. untung nya sudah di pesan pak firza sebelumnya. untung di dompet ku ada uang dengan jumlah yang sama besarnya dengan harga tiket itu. padahal uang itu tadinya buat bayar hutang. tp alhamdulillah masih terselamatkan berkat uang itu untuk membeli tiket yang medadak ini. aku pun berpamitan dengan enday. aku masuk sendiri ke ruang tunggu. tp masih harus antri di dpn loket pesawat. aku hampir menangis lagi dibuat penjaganya. karena aku merasa di pimpong oleh nya. akhirnya dia mendahului aku karena aku sudah menangis. mungkin mereka mengira aku terlalu cengeng. padahal aku khawatir sekali ketingalan pesawat, karena waktuku hanya tinggal 15 mnt lagi. dan mereka masih memaksaku untu ngantri dengan penumpang yang jurusan nya berbeda dengan ku. tp perjuangan itu terlewatkan. aku tiba di ruang tunggu tanpa sempat duduk, karena sudah harus langsung masuk ke pesawat. aku merasa sedikit lega.

selama dalam pesawat, aku hanya membaca al-quran dan menangis. mataku bengkat tak karuan. tulisan al-quran pun mulai samar2 di mata ku. antara air mata yang selalu membasahi mata dan kelopak mata ku yang membengkak. membuatku berhenti untuk membaca. aku lanjutkan menangis. menangis tanpa suara. aku hanya menatap jendela. mengingat kejadian2 terakhir bersama papa. mengingat janji2ku pada papa yang belum sempat ku penuhi.

aku tiba di medan dengan mata bengkak dan air mata mengering. faisal dan pak firza sudah menunggu tepat di dpn pintu kedatangan. faisal langsung menyambutku dan meraih tasku. dia memegang tanganku begitu juga pak firza. mereka ada di sisi kiri dan kanan ku. mungkin mereka takut aku tiba2 pingsan. dan kamipun bergerak ke rumahku. aku dan pak firza di kursi tengah. faisal dan supir di dpn. dan kemudian jalanan macet. aku rasanya ingin menangis lagi. bahkan aku rasanya tak ingin ada percakapan di mobil saat itu. aku ingin sendiri saja rasanya. mobilpun dengan gesit menembus padat nya mobil saat jam pulang sekolah itu. tak lama, kami harus belok kiri ke rumah ku di jalan alfalah. tepat di belokan itu aku melihat bendera kertas merah. menandakan ada yang sedang dalam keadaan duka. itu bendera untuk papa. aku ingin berteriak lagi dan ingin menangis sekencang2 nya. kenapa ini terjadi padaku ya Allah? aku semakin tak habis pikir.

tiba di depan rumah ku, yang sudah ramai dengan pria2 berpeci. rumah ku ramai? tp kenapa harus dengan cara seperti ini? aku langsung turun tanpa memperdulikan pak firza dan faisal. aku menagis dan memasuki rumah. di dalam rumah sudah tak ada kursi lagi. semua orang duduk di lantai. wanita2 berkerudung dan ramai sekali. hanya ada sebuah tempat tidur, dan papa terbaring di atas nya di tutupi kain selendang putih. Astarfirullahalazim. benarkah pandangan ku? papa yang selama ini selalu segar dan ceria, kini hanya terbujur kaku di ruang tengah. kaku sekali hingga tak menghiraukan kehadiranku. tidak seperti biasanya ketika aku pulang ke medan. dialah orang yang menjemputku dan dialah yang selalu mengajakku bercanda tentang mama. kali ini papa hanya diam. tenggorokanku rasanya kering sekali saat itu. aku berjalan lemas dan menangis. aku mencoba mencari keberadaan mama, karena semua tampak sama saja oleh mataku. lalu ku liat mama dengan baju putih, menangis di sebelah kanan papa. aku langsung memeluknya. mama langsung menjadi2 “chi, papa udah ga ada chi. papa ga pamit sama mama chi. mama sedih chi”. aku hanya mengangguk2 saja. kami berdua menangis dlam pelukan. mama menyuruhku melihat papa. aku tak tau harus berkata apa. sebagian otak ku masih ingin mengatakan bahwa ini ga benar. aku masih berharap ada keajaiban. aku berharap ini bukan nyata. semoga aku terbangun dari mimpi itu. ku angkat selendang putih di wajah papa. aku langsung berkata “pa, cici minta maap ya pa klo selama ini chichi ada salah, cici minta maaf jika blm memenuhi keinginan papa” aku tertunduk dan air mataku mengucur deras. aku tak mau air mata itu tertetes di wajah papa, dengan segera aku tutup kembali dengan selendang. lalu aku berwudhu. aku sholat ashar. aku menangis dalam sholat ku.

hari itu, selasa 11 november 2008 kujalani dengan teramat berat. aku bagaikan orang yang sedang berjalan dengan terpaksa. aku tak siap, tapi harus ku jalani. aku tertatih2. aku melangkah dengan berat. pikiran ku penuh. dan sebutir nasipun tak mampu ku telan. tak ada rasa lapar ku. dan tak ada nafsu makan ku.

hari itu, aku tak tau harus bagaimana. yg terbayang dalam otakku adalah, aku harus menghadapi kenyataan pahit ini. tak bisa ku hindari, tak bisa ku pungkiri. saat terberat dalam hidupku. bacaan al-quran mengalir untuk papa. aku menghabiskan waktu membaca al-quran di samping papa.

walaupun papa tak lagi bisa menyapaku. walaupun papa tak lagi mampu melihatku. walaupun papa tak lagi bernyawa, aku menikmati saat2 terakhirku bersama jasad nya. pada akhirnya aku mencoba untuk tegar disampingnya. tak menangisi nya lagi. aku tak ingin dia bersedih melihatku begini. aku temani papa dengan doa. semoga Allah swt, memudahkan segala urusan nya di alam sana. Amien… ya Rabbal Alamin….

Categories: cerita sedih

1 response so far ↓

Leave a Comment